Amina Wadud: Saatnya Mengingat Siti Hajar di Momentum Idul Adha

0
983
sumber ilustrasi: tipstren
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Hari raya Idul Adha telah tiba. Ingat Idul Adha ingat qorban. Ingatan tentang qorban pasti dibawa ke kisah Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as. Seperti disampaikan dalam khutbah-khutbah, sang ayah bersedia mengorbankan putranya yang tercinta untuk Allah Swt. Putranya pun menerima. Tetapi Allah Swt menggantinya dengan seekor domba.

Tapi apakah hanya Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang harus diingat dalam kisah momentum Idul Adha ini? Adakah kisah lain tentang ketakwaan dan keikhlasan selain dari mereka?

Amina Wadud, seorang Profesor Studi Islam asal Amerika, menyampaikan perspektifnya dari kisah di balik hari raya Idul Adha. Tentang kegigihan seorang perempuan budak berkulit hitam bernama Siti Hajar. Dia adalah istri kedua Nabi Ibrahim as dan ibu dari Nabi Ismail as.

Hanya berdua, Siti Hajar dan sang putra yang masih bayi, ditinggal sang ayah di padang pasir yang tandus. Dengan keikhlasan dan ketabahan yang tinggi, Siti Hajar akhirnya mampu bertahan hidup. Keselamatan Hajar dan anaknya terancam akibat dehidrasi dan kelelahan. Namun berkat keajaiban Tuhan, setelah tujuh kali berlari dari kaki bukit Safa (tempat anaknya berbaring) ke Marwa, sebuah mata air terpancar dari bawah tumit anaknya. Sehingga terbentuklah sebuah sumur yang dinamai Zam-Zam yang masih mengalir sampai saat ini. Dari kisah inilah asal mula ibadah sa’i. Atau berlari kecil antara bukit Safa dan Marwa.

Amina melihat begitu pentingnya peran Siti Hajar dalam histori Islam terutama menyangkut Idul Adha, qorban, dan ibadah haji. Kisahnya menjadi bukti begitu kuatnya patriarki pada masa itu. Bahwa dia dinikahi demi memperoleh keturunan anak laki-laki, kemudian diterlantarkan. Kisah Siti Hajar, bagi Amina adalah pengingat dan contoh tentang perjuangan seorang perempuan bertahan di tengah kejamnya ketidaksetaraan gender, ras dan kelas sosial.

Jika sebelumnya kita hanya mengingat Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as terkait momentum Idul Adha, maka sudah saatnya kita juga mengingat sosok penting Siti Hajar as. Laki-laki tanpa perempuan sesungguhnya tidak akan pernah bisa berbuat apa-apa. Karena itu harus saling menghargai peran keduanya secara seimbang.

Sumber: https://feminismandreligion.com/2013/10/17/hajar-of-the-desert-by-amina-wadud
Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.