Rektor Perempuan dari Pesantren

0
815
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

SANGAT jarang kita mendengar ada ulama perempuan yang menjadi pemimpin satu lembaga prestisius dan berpengaruh di tengah masyarakat. Apalagi jika kita persempit kriterianya menjadi ulama perempuan dari pesantren dan memimpin sebuah perguruan tinggi.

Barangkali asumsi itu patah setelah Nyai Hj. Afwah Mumtazah, M.Pd.I, seorang nyai pesantren yang dilantik menjadi Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Minggu 8 Mei 2016 lalu, untuk masa bakti 2016-2020 menggantikan rektor sebelumnya, Prof. Dr. A. Chozin Nasuha, MA.

Nyai Afwah mengatakan, menjadi rektor sebuah perguruan tinggi baginya adalah sebuah tantangan. Meski sudah berpengalaman memimpin Pondok Pesantren Aisyah Kempek Cirebon selama puluhan tahun, menjadi rektor adalah sesuatu yang berbeda. Menjadi Rektor ISIF adalah tugas cukup berat.

“Tugas berat saya adalah bagaimana mewujudkan mahasiswa yang punya kepedulian dan integritas. Mahasiswa yang tidak abai terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat seperti kesenjangan sosial, ketidakadilan dan ketertindasan,” jelasnya.

Sekalipun sibuk memimpin ISIF, Nyai Afwah masih tetap memimpin dan mengasuh pesantren, meladeni dan mendidik santri-santrinya. Setiap hari, ada sekitar 600 santri mengaji kepadanya. Ia juga aktif berorganisasi bersama Komunitas Hafidzoh Kabupaten Cirebon, PC Fatayat kabupaten Cirebon dan organisasi lainnya. Ia juga aktif mengikuti pelatihan dan kegiatan yang diadakan oleh Fahmina Institute, Rahimah, Wahid Institut dan banyak lembaga sosial yang lainnya.

“Saya ingin agar pengetahuan dan wawasan saya terbuka. Saya tidak ingin menjadi perempuan yang hanya di rumah saja, namun menjadi perempuan yang terus berproses dan terus belajar,” imbuhnya.

Semakin banyaknya pemimpin perempuan di Indonesia harusnya disyukuri. Semakin banyak pemimpin perempuan berarti semakin banyak kesempatan bagi seorang perempuan untuk memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat.

Nyai Afwah mengatakan, kesempatan menjadi pemimpin bagi seorang perempuan kini sudah terbuka lebar. Pada zaman sekarang, perempuan bisa mewujudkan harapan dan cita-cita luhurnya yang dulu hanya impian belaka. Dia pun berharap agar dengan semakin banyaknya pemimpin perempuan, kebijakan yang diambil pun akan semakin melibatkan aspirasi perempuan. Dengan begitu, ke depan, relasi sosial yang terbangun akan lebih setara dan adil.

Sementara itu, Ketua Yayasan Fahmina yang menaungi ISIF mennyatakan bahwa pihaknya sangat berbahagia memiliki rektor seorang perempuan, seorang nyai pesantren. Menurutnya, Nyai Afwah adalah seorang perempuan yang luar biasa.

“Satu kebanggaan bagi ISIF memiliki rektor baru dan beliau adalah seorang nyai dari pesantren. Tidak banyak perempuan yang mau menjadi pemimpin, apalagi dari pesantren. Sangat jarang. Namun Nyai Hj. Afwah Mumtzaha ini sungguh sosok yang yang luar biasa,” kata Ketua Yayasan Fahmina, KH Husein Muhammad, saat melantik Nyai Afwah. (FQH).

Penulis: Turisih Widyowati, aktivis Bayt Al Hikmah, Cirebon

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.