Sumber Gambar: Pixabay
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mengarungi lautan kehidupan rumah tangga tentu bukan tanpa rintangan. Badai, gelombang besar atau kecil, pasti sesekali datang menggoyahkan bahtera keluarga. Maka kurang tepat jika kita mengeluhkan badai dan ombak besar yang datang, karena hal itu di luar kendali kita. Nahkoda (kepala keluarga) dan para awak kapal (anggota keluarga) perlu bekerja sama memperkokoh bahtera itu, mengemudikannya dengan hati-hati, menambal badan kapal yang bocor agar tidak karam.

Sadar atau tidak, terkadang kita melakukan sesuatu yang bisa jadi menyakiti pasangan atau membuatnya merasa kurang dihargai. Jika terus-menerus dilakukan, hal ini bisa menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak. Ada setidaknya 4 sikap negatif yang paling sering memicu masalah, juga memperkeruh keadaan yang sedang sulit dalam kehidupan rumah tangga:

  1. Egoisme

Egois berarti menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain, tidak memikirkan orang lain dan kesejahteraan orang lain. Sikap egois akan sangat mengganggu relasi suami istri karena di dalam perkawinan baik suami maupun istri memiliki kedudukan setara. Menikah sesungguhnya tidak lagi bicara kepentingan saya tetapi berubah menjadi kepentingan kita. Dampak dari sikap egois membuat seseorang sulit menerima masukan orang lain karena merasa pendapatnya jauh lebih baik, juga menghasilkan sikap acuh tak acuh dan secara tak sadar menyakiti orang lain. Misalnya, ketika sudah menikah suami masih hanya memikirkan hobinya saja tanpa melihat hobi istrinya, atau sebaliknya.

Untuk menghindari sikap egois, seseorang perlu menumbuhkan rasa peduli dan menghilangkan prasangka buruk kepada orang lain. Belajar menerima masukan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan berterimakasih saat pasangan berusaha menyenangkan kita.

  1. Sikap Menyalahkan

Sikap menyalahkan orang lain adalah sikap yang memandang masalah hanya dari sudut pandang sendiri. Sikap seperti ini juga terjadi karena merasa pendapat pribadi paling benar dan cara berpikir yang kurang tepat. Orang dengan sikap ini lupa untuk belajar berempati jika ia dalam posisi yang disalahkan. Sikap menyalahkan orang lain akan membuat orang lain merasa tidak nyaman, tersinggung, dan merasa harga dirinya jatuh.

Sebaiknya setiap orang berpikir dulu sebelum berbicara dan mempertimbangkan dampaknya. Juga perlu mempertimbangkan bahwa komunikasi yang dilakukan tidak menjatuhkan orang lain tapi memberi solusi. Contoh:

A: “Kamu lupa menjemur baju ya?”

B: “Kamu kan tahu aku hari ini padat sekali. Kenapa tidak kamu saja yang menjemur baju?”

A: “Iya, aku lupa. Ya sudah, nanti kalau sampai rumah segera aku jemur.”

3. Superioritas

Sikap superior adalah sikap merasa lebih segalanya dari orang lain. Kadangkala sikap superior adalah usaha menutupi kekurangan diri sendiri dengan memosisikan semuanya sempurna. Di dalam diri orang yang merasa superior sebenarnya terdapat kondisi inferior (kekurangan). Secara naluriah, jika seseorang memiliki kekurangan, maka ia akan menutup kekurangan tersebut agar tidak terlihat. Ia sedang menolak kenyataan tentang dirinya. Bukannya melakukan perbaikan, ia justru terus mengubur kenyataan tersebut.

Dalam perkawinan, pasangan perlu terbuka tentang apa kekurangan dan kelebihannya. Sehingga pasangan dapat terus mengusahakan perubahan ke arah lebih baik. Jangan sampai kita malah mengabaikan pasangan, pergi meninggalkannya, dan tidak ingin menyelesaikan masalah. Hal ini akan memicu konflik yang lebih besar.

  1. Menghakimi (Judging)

Kadangkala kita terjebak untuk secara spontan menghakimi pasangan tanpa bertanya dan merunut apa yang terjadi. Kita dengan mudah memvonis seseorang dengan label sesuatu atau menuduh sesuatu. Menghakimi seperti ini mendatangkan kepuasan bagi pelaku. Namun bagi yang dihakimi, hal ini sangat menyinggung perasaan dan menjatuhkan harga dirinya. Menghakimi adalah bentuk pola komunikasi dan respon yang sangat ceroboh. Ibarat menembak, kita tidak tahu kemana kita akan menembak dan tidak berpikir panjang dampaknya.

Sebaiknya pasangan memberikan masukan dengan tujuan memberi solusi, bukan untuk semata-mata menghakimi. Contoh, bedakan pernyataan berikut:

X: “Kamu ini pasti mengutamakan urusanmu sendiri sampai lupa membelikan pesananku!”
V: “Mengapa sampai lupa belanja? Besok lagi buat daftar aktifitas agar tidak lupa ya!”
Dari keempat sikap tadi, adakah sikap yang tanpa sadar sering dilakukan? Yuk, kembali berintrospeksi!. [NR]

Referensi : Pondasi Keluarga Sakinah Bacaan Mandiri Calon Pengantin (Kemenag RI, 2017)

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.