Sumber: Wartapilihan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mbak, anak saya usianya baru 3 tahun, tapi sudah kecanduan HP. Tiap hari tanpa pegang HP. Bangun tidur yang dicari HP. Mau tidur yang terakhir dilihat HP. Saya orangtuanya sampai kewalahan. Dimarahi malah nangis keras sambil teriak-teriak. Malu kalau sampai didengar tetangga dikira anakku habis diapain begitu. Diam saja, nanti anak semakin kecanduan sama HP. Saya bingung harus bagaimana?

Keresahan yang disampaikan seorang mahmud (mamah muda) kepada penulis tak sekali dua kali diterima, tapi sering sekali. Malah saya sendiri sebagai ibu pernah menemui pengalaman yang sama, kesulitan mengatasi anak yang terlanjur lengket sama HP, persis seperti amplop dan perangko. Nggak bisa dipisahkan, kalaupun baterai HP habis, ya ditungguin sambil bermain, HP-nya di-charge. Ini adalah contoh wajah lain kids jaman now atau generasi millenial yang meresahkan.

Ketika anak sudah nyantol dengan HP, lalu timbul pertanyaan apa  sebenarnya yang dilihat anak ketika bermain HP? Pernahkah kita menemani anak ketika sedang pegang HP. Atau jangan-jangan malah merasa senang jadi anak dibiarkan saja, agar aktivitas orangtuanya tidak terganggu. Yang penting anak anteng, duduk atau sambil tiduran dan diam bermain HP.

Bagaimana caranya supaya anak tidak kecanduan HP? kemudian dengan cara apa kita mengalihkan perhatian anak dari HP. Di sini saya hanya ingin berbagi pengalaman, apa yang pernah saya lakukan pada anak-anak di rumah.

Anak pertama saya perempuan usianya 8 tahun. Pernah suatu kali saya mengintip apa yang dilakukan anakku itu. Dia biasanya bermain game, mengunduh sendiri di play store atau mencari lagu anak-anak di Youtube.

Tapi sekadar catatan, dia belum begitu paham menggunakan HP. Karena saya tidak pernah mengajarkannya. Jika saya sedang tidak berkenan meminjamkan HP, maka saya matikan data selulernya atau diatur mode pesawat. Ketika dia buka aplikasi dan tidak bisa mengakses internet, dia hanya bilang, “Mamah pulsanya habis, kakak nggak bisa main HP”.

Hal yang sama juga saya lakukan pada anak kedua, yang usianya masih 3 tahun. Hanya saja ketika sedang berada di ruang publik dan tersedia wifi gratis, saya manfaatkan itu untuk download beberapa video anak yang bisa dilihat dalam mode offline. Jadi sesekali ketika hp saya “dipinjam” anak-anak, sudah tersimpan beberapa video yang bisa dilihat bersama.

Sedangkan untuk mengalihkan perhatian, saya lebih mendorong anak-anak untuk bermain bersama teman sebaya. Melakukan aktivitas fisik seperti bersepeda, bermain petak umpet, berlarian di halaman rumah atau kegiatan apapun yang memungkinkan anak tidak ingat HP.

Mungkin itu hanya beberapa trik saja untuk menghadapi kids jaman now yang gandrung sama HP, gadget dan semua hal yang berkaitan dengan internet. Bermain di luar tetap lebih baik bagi tumbuh kembang anak, terutama yang masih usia dini di bawah lima tahun.

Lebih bagus lagi jika terkena langsung sinar matahari pagi hari, karena banyak mengandung vitamin D, baik untuk kesehatan menambah asupan kalsium dan penguatan tulang anak.

Selain itu, terlalu lama terpapar HP dampak buruknya adalah anak akan mengalami obesitas/kegemukan, sebab kurang gerak dan tidak mengeluarkan keringat. Anak jadi asosial, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, sikapnya eksklusif (menutup diri), bahkan berpengaruh pula pada kesehatan matanya. Bisa mengakibatkan mata minus, plus atau silinder.

Sebagai penguat catatan di atas, saya ambil keterangan dari Keluarga Kita, tentang pentingnya mengingatkan orang tua, agar tetap mengontrol dan mengawasi penggunaan HP pada anak secara bijak. Disebutkan di sana pola stimulasi bagi anak usia dini itu,  diantaranya :

  1. Perkembangan motorik halus dan kasar. Yaitu pertama memperagakan dan melatih gerakan fisik. Kedua perbanyak aktivitas di luar ruang atau alam.
  2. Pengelolaan emosi dan rentang konsentrasi. Pertama, kenali temperamen bawaan anak. Kedua, beri nama emosi agar anak belajar mengenali dan mengelolanya. Ketiga, hindari waktu terlalu lama di depan layar (TV, komputer, HP). Keempat, melakukan kegiatan yang membantu fokus, seperti main balok, meronce, menuang air dan menempel kertas atau gambar.

Berdasarkan pola stimulasi, maka penerapan disiplin positif dan hubungan reflektif pada anak usia dini akan menumbuhkan banyak ketrampilan hidup. Bermain adalah faktor penting dalam kehidupan anak.

Dengan bermain anak mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, emosional dan fisik. Anak dapat terhubung dengan dunia di sekitarnya, dan belajar memahami situasi, pengalaman dan harapan mereka ketika bermain.

Jadi, sebagai orang tua kita harus belajar bersikap bijak terhadap anak, dalam penggunaan HP dan mengakses internet. Disesuaikan dengan kebutuhan anak yang ingin hiburan tambahan, tetapi tidak boleh juga lalai membiarkannya larut asyik bermain hp hingga seharian penuh.

Jika bermain di luar rumah masih lebih baik, maka ajak anak-anak bermain bersama. Jiwa kita sebagai orang dewasa malah akan lebih bebas tertawa lepas, kembali pada sifat anak-anak yang polos dan spontan.

Kemudian ketika ingin membentuk bonding (ikatan emosional) dengan anak, gunakan prinsip resiprokal, yakni membangun relasi kesalingan antara orang tua dan anak. Karena itu juga penting dipraktikkan, dengan menggunakan komunikasi yang baik, santun dan bijak. Menjadikan anak sebagai titipan Allah SWT yang harus dijaga, dilindungi dan diperlakukan dengan kasih sayang tulus. Namun tetap bersikap tegas.

Meminjam maqolah sahabat Ali bin Abi Thalib RA, “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Karena mereka bukan hidup di zamanmu”.

Semoga catatan ini menjadi renungan kita bersama sebagai orang tua, bagaimana harus bersikap adil menghadapi anak yang sudah mulai melek teknologi.[]

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.