Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Di tengah riuh syukur atas keberhasilan atlet-atlet kita memboyong emas di Asian Games 2018, ada salah satu atlet yang menjadi perhatian dan viral di sosial media.

Jonathan Christian, atau biasa dipanggil Jojo, atlet badminton tunggal putra ini mencuri perhatian netizen ketika melakukan selebrasi kemenangan.

Selain berprestasi dan mempunyai paras rupawan, tindakannya melepas kaos saat selebrasi kemenangan menarik perhatian banyak orang, khususnya kaum perempuan.

Banyak perempuan mengagumi ketampanan dan keindahan bentuk tubuh Jojo. Tidak sedikit yang menambahkan komentar-komentar tidak senonoh di berbagai lini sosial media.

Baca juga: Laki-laki juga ‘Fitnah’ bagi Perempuan

Hal tersebut tidak hanya dialami Jojo sebagai laki-laki. Perempuan juga banyak yang mengalami hal tersebut. Mungkin kita masih ingat kasus Via Vallen yg mendapatkan pesan tidak senonoh di instagramnya.

Fitnah adalah berkaitan dengan pesona. Perempuan selalu dianggap sebagai sumber fitnah. Sehingga tidak sedikit perempuan yg dibatasi ruang geraknya karena ditakutkan menimbukan fitnah (menebar pesona yang membuat laki-laki tergoda).

Perempuan dilarang berhias diri, dilarang menjadi pemimpin, bernyanyi, aktif di ruang publik, bahkan mereka dipaksa menggunakan pakaian A dan dilarang menggunakan pakaian B untuk menghindari fitnah.

Lebih mirisnya lagi, ketika perempuan mendapatkan pelecehan seksual (fisik, verbal), mereka kembali disalahkan karena dianggap bersikap menggoda. Padahal gak sedikit korban pelecehan itu pakai jilbab, bahkan cadar.

Sedangkan laki-laki yg menggoda perempuan dianggap lumrah dan wajar, ‘ya namanya juga laki-laki!’

Baca juga: Meluruskan Logika Bias Gender dengan Mubadalah

Padahal membahas tentang fitnah, kasus Jojo juga bisa menggambarkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi sumber fitnah.

Laki-laki juga bisa menebarkan pesona dan membuat lawan jenis tergoda atau menyukainya.

Berbeda dengan kasus pelecehan yg terjadi pada perempuan. Dalam kasus Jojo, perempuan kembali disalahkan karena dianggap ‘centil’.

Baca juga: Ketika Perempuan Selalu Salah

Maka dari itu kita bisa melihat bahwa sebenarnya baik perempuan maupun laki-laki sama-sama punya potensi menjadi sumber fitnah.

Keduanya juga bisa menjadi pelaku maupun korban dari tindakan pelecehan seksual. Tidak hanya perempuan yg harus menjaga sikap agar tidak ‘menggoda’ lawan jenis.

Laki-laki juga harus menjaga sikap dan pakaian agar tidak menggoda lawan jenis.

Ketertarikan kepada lawan jenis tentu merupakan fitrah bagi perempuan maupun laki-laki. Tapi ketertarikan tersebut hendaknya diekspresikan dengan cara-cara yang baik dan santun.

Kalau masih menggunakan kata-kata tidak sopan atau cenderung vulgar, duh ‘cupu’ banget sih itu![]

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Comments

comments