jalan ke madrasah
Ilustrasi: pixabay[dot]com
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dulu, dulu sekali, saat masa kesantrianku, aku kerap berjalan menuju sekolahan, Madrasah Tsanawiyah, dengan melamun.

Dalam lamunanku itu, aku bertanya-tanya apa sih tujuan aku hidup ini? Apa tujuan hidup itu sendiri? Apa maksud Tuhan menciptakanku?

Masa itu, setiap aku bertanya pada para ustaz-ustazah ataupun para Bu Nyai dan Kiaiku, tiada jawaban yang benar-benar memuaskanku. Tidak ada jawaban yang benar-benar membuat kegelisahan yang menangkupi batinku lumer, lenyap, terbang. Tidak ada. Atau barangkali belum ada.

Aku melihat teman-teman perempuanku yang lulus bahkan banyak juga yang belum lulus dari pesantren dipertemukan dengan sebuah pilihan bernama ‘pernikahan’.

Aku tengok ke sana, di tengah rumah tangga mereka, barangkali aku menemukan jawaban kegelisahanku di sana. Tapi tidak jua aku jumpai. Bahkan, di beberapa kasus, sungguh aku menaruh rasa kasihan kepada mereka.

Teman-teman perempuanku yang masih sangat belia, namun harus menanggung beban rumah tangga yang sama sekali tak diketahui apa itu rumah tangga? Siapa itu suami?

Sampai pergulatan hidup menghantarkanku pada dunia yang fokus dengan isu-isu perempuan. Potongan-potongan hidup yang prosesnya harus aku lalui, dan dinamisasinya mesti aku cecapi.

Bukan tanpa alasan saat aku menggunakan teori dekonstruksi dan post-strukturalisme dalam mendedah antologi cerpen Nawal Sa’dawy dalam penyusunan skripsiku.

Di sana, bersamaan teori yang aku pakai, aku tawarkan bahwa potensi maskulinitas bukan hanya milik lelaki, dan potensi feminitas bukan hanya milik perempuan. Keduanya, pada diri perempuan dan laki-laki menjadi idealitas adanya.

Kegelisahanku lamat-lamat terurai semenjak ngaji filsafat di Masjid Jendral Sudirman yang berada di Jalan Colombo Yogyakarta. Menyisa kegelisahan berkerak saja.

Belajar mendalami tasawuf, kegelisahanku terdedah purna. Aku jadi tahu bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk menjadi insan kamil.

Hal yang menjadi paling dasar menujunya adalah mengoptimalkan potensi ‘jamaliyah’ dan ‘jalaliyah’ Tuhan dalam diri kita. Potensi ‘feminitas’ dan ‘maskulinitas’. Dalam teologi Cina, ini juga dikenal dengan ‘yin’ dan ‘yang’.

“Esensi tujuan hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah menjadi insan kamil, yaitu manusia yang dapat menyatukan sisi ilahiah ‘jamal’ dan ‘jalal’ menuju ‘kamal’,” begitu redaksi keilmuan yang aku baca.

Semua itu, tujuannya, agar sifat ‘jamaliyah’ dan ‘jalaliyah’ Tuhan maksimal menyelimuti diri manusia. Baik laki-laki maupun perempuan. Agar, tugas manusia sebagai ‘khalifatullah’ di muka bumi ini terjamah dengan potensi dan kerja-kerja yang maksimal pula.

Kini, aku mulai bisa bernafas lega. Mulai bisa menatap kehidupan dengan indah. Dan tentu saja, mulai siap untuk melakukan tugas manusia di atas kehidupan ini. Menjadi khalifatullah dalam balutan ibadah hanya kepada-Nya.[]

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.