rumah tangga harmonis
Ilustrasi: pixabay[dot]com
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Menjalani rumah tangga tidak selamanya mulus, adem ayem, harmonis, dan tentram. Terkadang tiba-tiba muncul krikil-krikil kecil yang menggangu ketenangan. Utamanya karena perbedaan pendapat atau cara pandang. Terlebih bagi pasangan seperti kami yang selisih usianya relatif jauh, 20 tahun.

Perbedaan ini terjadi seringkali karena tarik menarik pada “dunia” masing-masing. Misalkan, aku yang baru mulai berrumah tangga tiba-tiba ditarik jauh pada fase di mana suamiku sudah 14 tahun berpengalaman menapaki rumah tangga.

Atau, aku menarik suamiku pada fase di mana baru bagi aku, tetapi usang bagi suamiku. Alih-alih melanjutkan kondisi yang sudah dirajut lama, suamiku justru harus bersabar dan telaten dalam berelasi dengan pemula sepertiku.

Sepintas bagiku dan suamiku hal tersebut sangat menjenuhkan. Akan tetapi, dinamika tersebut sesungguhnya adalah proses unik yang kami jalani untuk memandang satu sama lain sebagai sosok yang istimewa.

Baca juga: Cinta yang Tidak Egois

Strateginya adalah bagaimana relasi rumah tangga yang tarik menarik ini tetap berada dalam landasan kebahagiaan bersama. Dengan pengalaman suamiku yang seabrek, aku bisa banyak belajar dan bertanya segala hal yang belum aku ketahui.

Tanpa harus belajar jauh-jauh, aku bisa menambah ilmu dan pengalaman dari orang terdekat. Sebaliknya, berelasi denganku yang lebih muda, suamiku tidak lagi kaku dan kolot. Pikiran dan jiwanya terkondisikan menjadi lebih fresh lagi. Hal ini tentu merupakan terapi yang bagus untuk sama-sama berjiwa muda.

Ketika datang rasa jenuh, kondisi lowbatt, sebisa mungkin “hubungan rumah tangga” harus segera dicharge. Men-charge ‘hubungan’ yang sering kami lakukan adalah ‘pacaran’, jalan dan makan berdua di tempat yang romantis.

Mulai dari  sekadar nongkrong menghabiskan malam di tempat ngopi, makan di tempat favorit, hingga nonton film di bioskop. Hal ini biasa kami lakukan setelah menidurkan anak-anak di rumah.

Baca juga: Bahagia Berumah Tangga

Aktivitas lain untuk melangsungkan kebahagiaan dalam rumah tangga adalah selalu menciptakan suasana romantis. Misalkan, masak bareng di dapur, beres-beres rumah bareng, memberikan kejutan di hari ulang tahun, video call ketika berjauhan, saling memijat ketika terlihat letih, saling memberikan pujian dan apresiasi, hingga melakukan bersih bareng.

Kemesraan rumah tangga yang dibangun seperti ini ternyata sudah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dengan istrinya. Salah satunya adalah testimoni dari ‘Aisyah RA, beliau biasa mandi bersama dengan Rasulullah SAW.

“Aku biasa mandi bersama dengan Nabi SAW dalam satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana)”. (HR. Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

Kebiasaan mandi bersama merupakan satu dari sekian banyak kemesraan yang dibangun dalam rumah tangga Rasulullah dan ‘Aisyah. Sikap tersebut patut kita teladani dan praktikan dalam keseharian untuk tetap menjaga ‘hubungan rumah tangga’ agar tidak sampai lowbatt.

Baca juga: Rumah Tangga yang Samara

Terlebih bagi pasangan yang usianya terpaut jauh, seperti pengalaman saya. Dengan banyak perbedaan pola pikir antara suami istri, semestinya keduanya sama-sama berorientasi pada kondisi rumah tangga yang membahagiakan.

Terlepas dari tarik menarik pada fase masing-masing, pelajaran yang bisa dipetik adalah ambillah hal yang bisa nyaman untuk kebaikan bersama dari masing-masing perbedaan tersebut.

Ketika ikatan keduanya dibangun atas landasan cinta, usia semestinya bukan lagi persoalan yang menjadi batu krikil untuk membangun surga dalam kehidupan rumah tangga.[]

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.