Muhammad
Ilustrasi: pixabay[dot]com
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Setibanya di Mekah, Nabi Muhammad mengajak Sofwan untuk masuk Islam. Itu pun jika Sofwan mau. Jikapun tidak, Nabi tidak memaksanya. Sebuah tawaran yang sangat murah. Andai saja Sofwan menerima tawaran Nabi, tentu semua masalahnya akan selesai secara melegakan. Tapi Sofwan tidak mau.

Begini ceritanya. Dari pelariannya di Laut Merah, Sofwan, dengan ditemani Umair datang kepada Nabi Muhammad. Tapi mereka berdua mendapati Nabi sedang berada di dalam Masjidil Haram. Nabi sedang salat jamaah Ashar bersama dengan para sahabat.

Melihat pemandangan mengherankan itu, Sofwan bertanya kepada Umair, “berapa kali kalian salat dalam sehari?”

“Lima kali,” jawab Umair.

“Pada setiap kali jamaah, apakah Nabi selalu bersama kalian,” tanya Sofwan lagi.

“Iya, tentu saja,” kata Umair.

Ada rasa takjub dalam diri Sofwan. Betapa Nabi adalah seorang pemimpin yang selalu dekat dengan pengikutnya. Hal yang tidak pernah dia dapati pada diri seorang pemimpin yang lain yang dia kenal sebelumnya.

Selepas jamaah, Nabi pun keluar masjid dan mendapati Sofwan dan Umair berdiri menunggu beliau.

“Ya Muhammad, saya datang dengan sorban dari Umair. Dan izinkan kami ikut bersamamu,” kata Sofwan.

“Kemari, mendekatlah Sofwan,” kata Nabi.

Sofwan salah tingkah dengan keramahan Nabi. Ada keengganan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sofwan masih terlihat ketakutan. Takut dibunuh Muhammad. Jangan-jangan, Muhammad sedang bersiasat?

Nabi pun membaca air muka Sofwan yang penuh rasa takut itu. “Umair bawa Sofwan kemari,” perintah Nabi kepada Umair.

Umair pun menarik tangan Sofwan untuk dibawa ke dekat Nabi Muhammad. Tapi Sofwan tidak mau. “Demi Allah sampai Anda bisa menyampaikan ke saya jaminan kemanannya, saya tidak akan mendekat,” katanya.

“Baiklah Sofwan, pikirkanlah tawaranku selama empat bulan.” “Umair, lepaskan Sofwan. Biarkan dia pergi,” kata Nabi.[]

Facebook Comments
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.